Mereka PPL







Menjadikan setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu.
Hey, tahukah kalian. Bahwa aku benar-benar menyayangi kalian semua. Hingga rasanya hampir tak kupedulikan jika kalian tak menyukaiku bahkan membenciku. Ku baca deretan nama dikolom list papan depan akademik kala itu.
“SMPN 26: Ayu–KI, Ulfa–KI, Rifa’I–PAI, Yudi–PBI, Elis–PBI, Wiwit–PAI, dan Nurul–PAI.” >>Kebetulan namaku dan Eny belum masuk list dikarenakan kurangnya profesionalitas kerja dari pihak akademik.
Ayu! Oh My God… diantara sekian banyak orang, mengapa dengannya juga. Hhhhh… kuhembuskan nafas berat… dan rasanya semakin memebebani ketika teman-teman meledekku akan se-team dengannya. Waktu itu hari perkenalanku dengan anak-anak PPL-II yang bertepatan dengan pembekalan  bersama DPL masing-masing, selain berkenalan juga. Bersyukur karena dia gak dateng, “anak itu mana mau ngumpul sama orang kecuali the-genk nya (trio macan)” batinku. serius, bukannya aku suudzon. Sosok Ayu di kampus itu, ih.. apa ya… sok high kuality, kalo ngeliat orang matanya itu lho…. Bahkan aku berani taruhan, senior di kampus pun akan memilih gak disekitar dia. Aku tahu setiap matanya melirikku tajam, tapi aku selalu cuek, hahaha masa bodoh, gitu aja terus sampai matanya keluar. Hihihi. Yah jujur aja saat dia bercerita tentang dirinya di lobby SMPN 26, aku berfikir bahwa dia juga normal ya ternyata. Begitu duduk di kursi basecamp kami, langsung deh keluar somplaknya. Hahahha, bahkan dia yang paling sering bawa cemilan dan masakan buat kita-kita. Aih, aih, aih, baik hati banget pokoknya.
Eny, kami teman dekat dikelas. Aku tahu betul sifatnya di kelas, tapi ketika di SMPN 26 ternyata dia makin menjadi pemirsa, sama kayak Ayu, somplaknya langsung keluar. Apalagi waktu dia bikin drama bolliwood india sama Rifa’i. haahahhh lucu abis, kayak ngakurin (kata dasar ‘Akur’ ya!) anak TK. Aih, lucu pokonya dramanya. Sinetron abis, hahahh, layar tancep gratis.
Uung, kami sekelas dulu sebelum terpecah menjadi prodi. Tapi kami masih satu jurusan, dan kedekatan seluruh kelas kami dulu itu sangat baik. Aku pikir dia orang yang lemah lembut kayak mbak Elis ya, tapi ternyata setelah dekat dengan kami si biang heboh. Sifatnya ikut terkontaminasi seperti kami, jadi cerewet. Kalo marah dulunya diem – sekarang kalo marah makin bawel aja, oia! Ingat! Makin ENDEL juga. Hahahhhh.
Pertama kali aku melihat orang yang namanya Yudi itu… ih… gitu banget, songong abisss… apalagi bicaranya yang asal ceplas-ceplos, benar-benar makin membuatku enggan beramah tamah dengannya. Hingga setiap pertemuan dengannya sebelum memasuki 26, aku memilih untuk tak memandang dirinya, karena apa, songognya itu lho  nyebelin abis, sok ganteng. Tapi kok ngomongnya rempong ya cin? Hahahh, sumpah sosok Yudi itu literature baru bagiku. Masalahnya baru kali itu aku punya temen kayak Yudi. Aku ingat, artis favoritnya itu Olga, aih mirip banget deh gayanya. Terus suaranya, kalian tahu Nassar? Ya itu. Cerita Rifai, waktu dia liat Nassar nyanyi di TV, seketika bayangan Yudi langsung muncul di kepalanya. Mirip banget cara nyanyinya, penuh lika-liku. Eh salah, cengkok maksudnya. hehehh
Siapa ya… ah ya… perkenalan kami dengan mbak wiwit, bukan aku. Awalnya Eny yang berkomunikasi dengan Mbak Wiwit lewat ponsel, ceritanya Eny mendapat nomor Mbak Wiwit dari teman pondoknya. Eny masih menyambung komunikasi dengan Mbak Wiwit, aku disampingnya celingak-celinguk mencari sosok yang sekiranya sedang menjawab percakapan Eny lewat ponsel. Menunggu didepan pintu eltis, sesosok perempuan berjilbab biru muncul. Apa mungkin itu orangnya? Kutepuk bahu eny mengisyaratkan pandanganku padanya, si jilbab biru dengan ponsel ditelinganya juga tengah menatap kami, hanya saling diam memandang satu sama lain, kemudian tersenyum. Tapi ponsel Eny dan si jilbab biru masih menempel ditelinga, membuatku sedikit ragu. Hey, dia disampingku kalian tahu, posisinya: sijilbab biru – aku – eny. Kemudian kami hanya saling diam di depan pintu eltis. sampai dia dan eny saling menunjuk ragu kemudian bertanya apa mungkin dia sosok yang sedang ditelpon. Beberapa detik kami hanya terdiam, speechless tepatnya, seketika kami tertawa terbahak, benar-benar gila! Konyol banget, Gengsinya kita kebangetan nih. Hwahahahhh
Rifai, apa ya? awal jumpa sih biasa ajah. Yang membuat dirinya terlihat sedikit aneh adalah saat dia menyebut Uung seperti sudah sangat mengenalnya. Hello, kita yang dulu sekelas aja biasa aja, dia? Siapa? Kok sepertinya kenal banget. Sampai akhirnya kami semua mulai kompak, ternyata Rifai itu baik banget, disaat Yudi gak mau boncengan tiga, dia pahlawan kami yang rela berkorban motor dan tenaga untuk yang lainnya. Hahahha, terus juga dia andalan kami dalam urusan agama, jamaah misalnya. Imam demokratis, mau sholat terawih aja nawarin dulu minta berapa rakaat. Hwahhahh
Mbak Elis, ketika kami harus memutuskan siapa yang menjadi ketuanya. Akhirnya semua menunjuk dia. Batinku, kenapa gak cowok aja? Apalagi dari fisiknya dia terlihat kurus dan lemah. Tapi begitu merasakan cengkeraman tangannya dan mendengar mbak elis ngomong, aku baru tahu mengapa dia harus menjadi ketua kami. Mbak Elis itu ya, ngomongnya luembut sekali. Dan ternyata apa? mbak elis itu narsisnya pake banget. Setiap foto selalu ada dia, ingat baik-baik, selalu! Tidak ada foto yang terlewat tanpanya. hahahhh
Mbak Uyung! Awal ketemu dia setelah kekonyolan kami dengan Mbak Wiwit. Orangnya itu ya, cerewet abis, apalagi kumpulnya sama anak organisasiku Dita (yang terkenal frontal banget – itu dulu sebelum deket waktu KKN) aih, apalagi matanya keliatan judes banget! Eh ternyata dia baik lho, dia orangnya dewasa dan suka membantuku mengoreksi tugas anak-anak kelasku. Apalagi waktu aku kesulitan menulis nilai 100 yang terasa sangat sulit ditanganku, dia yang nulisin. Baik kan, ahihihiii.
Hari itu hari terakhir aku memasuki kelas mereka, sesak rasanya mengakui hal tersebut. Kusunggingkan senyum terbaikku dihadapan mereka. Kutatap mereka lekat satu persatu. Berusaha mati-matian mematri wajah mereka satu persatu di memoriku. Kuhembuskan nafasku, berat, sungguh berat mengucapkan perpisahan pada mereka. Sesak yang ada, Tuhan lebarkan paru-paruku agar mudah bagi diriku untuk bernafas. Aku terus mengucap syukur, Alhamdulillah, Alhamdulillah aku di sini, di SMPN 26 Surabaya, Alhamdulillah Allah memberiku tempat terbaik. Berada di sini dengan teman-teman team PPL IAIN Supel maupun UNESA yang sangat istimewa, Kepsek; jajaran Guru dan karyawan yang luar biasa sekali, juga siswa-siswinya yang sangat hebat. Semua hebat, benar-benar sekolah dengan manajemen yang luar biasa. Ah rasanya pujian sebesar apapun masih saja kurang jika kita benar-benar masuk di dalamnya.

Tawa mereka, cara mereka menyapaku, cara mereka memuliakan seorang Guru. Aku benar-benar takjub. Subhanallah wal hamdulillah, tak hentinya aku bersyukur dan tak lupa berdoa untuk mereka. Disaat mereka mencium tanganku dengan rasa hormat dan sayang. Siapapun akan bangga memiliki murid seperti mereka. Ah, aku merindukan mereka, Saat penggung tanganku tak hanya dicium dengan bibir mereka, tapi juga pipi kanan-kiri mereka, seakan tak ingin ketinggalan satu jengkal pun, punggung tanganku telah didaratkan di kening mereka. Dan mereka mengulangi hal tersebut berkali-kali. Subhanallah… mana mungkin aku mengeluh dengan sikap mereka ini, yang ada aku terus mengucap syukur berada diantara mereka.
Dan hari itu adalah hari terakhirku di SMPN 26 Surabaya, seusai kegiatan keagamaan (shalat dhuha) dilapangan sekolah. Saat perpisahan kami di hadapan semua siswa. Kami harus berjalan di tengah loby, dihadapan ratusan siswa yang telah tertuju pada kami. Saat tepuk tangan bergemuruh menyambut kami dan… “Deg” hatiku terasa sedang dipilin-pilin, perutku terasa ngilu. Dan saat mereka berteriak menyapaku “Miss Riya, Miss Riya”. Yang kuinginkan adalah membalas sapaan mereka dengan lembut dan terbuka. Tapi apa, saat itu  aku hanya bisa tersenyum kelu dan memalingkan muka. Saat itu semua pertahananku telah runtuh, terharu, bahagia, sedih semua bercampur aduk, mengaduk-aduk emosi yang baru saja kustabilkan. Yah, apalagi? Mataku mulai terasa berkabut, hampir runtuh butiran itu, syukurlah orang disampingku menguatkanku. Aku tersenyum berusaha menguatkan hatiku dengan menyebut nama-Nya. Setelah duduk dihadapan ratusan siswa, air mata benar-benar sulit terbendung, sekuat tenaga aku menggigiti bbirku agar tak meneteskan air mata. Semua memory selama dua bulan terbaik bersama mereka membayang jelas dan indah dikepalaku. Ya Allah, aku merindukan mereka.
 

0 komentar:



Posting Komentar